Monday, December 22, 2014

Vertikultur

Belakangan ini banyak lahan-lahan di perkotaan semakin terlihat sempit. Kurangnya lahan untuk menanam pun juga ikut berkurang. 

Untuk mensiasati hal tersebut ditemukan pola tanam baru yang dinamakan vertikultur. 

Vertikultur diserap dari bahasa Inggris yang berasal dari kata vertical dan cultureyang artinya, teknik budidaya tanaman secara vertikal diruang sempit dengan memanfaatkan bidang sebagai tempat bercocok tanam, sehingga penanamannya menggunakan sistem budidaya pertanian secara bertingkat baik  indoor  maupun  outdoor. Tujuan utama aplikasi teknik vertikultur adalah memanfaatkan lahan sempit seoptimal mungkin.

Tanaman yang dapat ditanam dengan pola tanam ini yaitu tanaman sayur-sayuran dan obat-obatan dengan berat yang ringan serta perakaran yang dangkal. 

Tujuan dari vertikultur adalah untuk memanfaatkan lahan sempit yang tidak produktif menjadi lahan sempit yang produktif dengan aplikasi vertikultur, menghemat pengeluaran dengan cara memiliki tanaman sayuran sendiri, menambah nilai estetika lahan pekarangan, dan dapat sebagai variasi pelengkap tiang rumah utama.

Syarat-syarat menanam dengan pola atau teknik vertikultur adalah Persyaratan  vertikultur  adalah  kuat  dan mudah  dipindah-pindahkan. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya  disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur  pendek, dan berakar pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikultur antara lain  selada, kangkung, bayam, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun  dan tanaman sayuran lainnya. 

Bahan-bahan yang bisa digunakan juga beragam mulai dari bambu, pipa paralon, kaleng bekas, dll. Dengan model yang beragam juga.

Tiga aspek yang harus dipersiapkan dalam budidaya tanaman organik secara vertikultur, yaitu: pembuatan paralon vertikultur, penyiapan dan penggunaan pupuk organik, serta penanaman dan pemeliharaan.

No comments:

Post a Comment